PUBLIK

Ada Makna Sisipan Kritikan Kepemimpin Daerah

INFOTANAHLAUT.COM- Pemkab Tanah Laut mengajak warganya untuk begadang sampai pagi lewat pagelaran wayang kulit, Sabtu (9/12) kemarin di halaman stadion Pertasi Kencana Pelaihari.

Pagelaran wayang kulit di hadiri wakil bupati Taka H Sukamta, dan di buka oleh bupati Tala Bambang Alamsyah, yang di tandai dengan penyerahan tokoh wayang Krisna kepada dalang Ki Bagong Darmono,SH dari kota Klaten Jawa Tengah.

Bupati Tala Bambang Alamsyah mengatakan, Tanah Laut memang kaya akan budaya, termasuk salah satunya wayang kulit sebagai budaya Jawa ini, karena memang di daerah ini banyak orang Jawa. Banyak atau sedikit bukan menjadi persoalan, namun bagaimana membangun daerah ini agar lebih maju, dan pagelaran wayang kulit menjadi media pemersatu bangsa, dan edukasi bagi semua. “Mungkin perlu penerjemah kalau menonton sang dalang yang memainkan peran wayang-wayang itu,” kata Bambang yang di sambut aplaus penonton.

Dalam pagelaran wayang kulit mengangkat cerita Kresno Gugat.

Sejarah singkatnya, Krisna pergi meninggalkan kerajaan Dwarawati naik ke kahyangan menemui Batara Guru. Tujuannya untuk meminta wahyu Kraton. Awalnya, Batara Guru mau menurunkan wahyu tersebut kepada Krisna, namun karena pengaruh istrinya Durga, maka Batara Guru membatalkan keputusan memberikan wahyu kraton tersebut kepada Krisna, dan akan di berikan kepada anak laki-laki sendiri yang bernama Dewosrani. Keputusan plin-plan dan tidak adil serta mengutamakan keluarga sendiri membuat Krisna marah. Krisna berubah jadi raksasa dan mengamuk di Kayangan, sehingga para dewa kocar-kacir. Batara Guru pun melarikan diri untuk mencari pertolongan. Akhirnya, Batara Guru ketemu dengan seorang pendeta yang bernama Resi Rusmanaji. Atas saran Resi, wahyu kraton yang berupa kelapa muda di sayembarakan. Siapa yang bisa memecahkan kelapa muda tersebut dan meminum airnya, maka ialah yang berhak menerima wahyu kraton tersebut, dan sayembara di menangkan oleh Krisna dan Arjuna.

Sementara dalam konteknya dengan kritikan dengan kondisi di Tanah Laut, Batara Guru seharusnya memberikan wahyu kepada Krisna, tapi mengabaikan kedudukannya sebagai pemimpin daerah dan malah mengutamakan kepentingan anak dan keluarga.

Ada pula semacam pesan moral dan sindiran lain, Krisna yang menitipkan kerajaan pada Resi Mayonggo Seto untuk mengatur negara selama selama pergi, tapi di tanggapi tidak baik oleh Baladewa, bahkan di tuduh mau menguasai kerajaan padahal Mayonggo Seto dengan tulus ihklas bekerja untuk Drawati, sehingga sindiran itu menyikapi pola hubungan kepemimpinan di Tala saat ini.Tung

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Komentar Facebook