DUNIA USAHA

Buah Bagang Bisnis Baru Tuk Ekspor

INFOTANAHLAUT.COM- Umbi Porang atau biasa di sebut buah Bagang oleh masyarakat di Desa Ujung Kecamatan Bati-Bati, ternyata sebagai bisnis baru yang bahkan bisa menjadi bahan ekspor. Kendati keberadaan tanaman buah Bagang ini masih tanaman liar yang tumbuh di guntung-guntung atau aliran sungai kecil yang ada di wilayah Desa Ujung, akan tetapi sudah menjadi salah satu bahan pesanan dari luar daerah bahkan luar negeri.Manfaat dari buah Bagang ini terang Eko salah seorang pengumpul buah Bagang kering banyak sekali manfaatnyaa.
Sabtu (7/4) tadi Eko mengatakan, memang buah Bagang tanaman liar, dan pengirimannya ke Surabaya sudah dalan bentuk kering yang sudah tidak ada warna kuningnya lagi dan persis seperti krupuk keringnya setelah melalui proses penirisan dan penjemuran.
Ia menambahkan, untuk proses pengeringan kalau dalam kondisi cuaca panas normalnya selama 3 hari.
“untuk tenaga pekerja tidak menentu, siapapun boleh saja mengerjakan, mulai dari pengumpulan buah Bagannya sampai pada proses pemotongan tipis-tipis, yang di utamakan adalah warga setempat,” jelasnya.
Memang sifatnya seperti home industry, dalam hal perhitungan di hitung per kilo basah, sasap, jemur dengan harga Rp 250 sampai Rp 300 per kilonya. Untuk yang kecil-kecil Rp 300 dan yang besar-besar Rp 250.
Menyangkut manfaat buah Bagang diantaranya untuk bahan utama lem, kemudian juga sebagai bahan kosmetik, jeli, bisa juga untuk makanan pokok dan yang paling suka biasanya negraa Jepang dan Cina, sementara kalau di Indonesia hanya sampai pada bahan untuk tepung, dan yang jelas buah Bagang dalam bentuk kering menjadi bahan ekspor ke Jepang, Cina dan Amerika juga.
Bagi Eko, buah Bagang sementara ia kirim ke Surabaya karena pabriknya ada di sana dan minimal pengiriman sebanyak 1 ton, selain sudah ada kerjasama dengan pabrik karena bahan mentahnya pabrik yang membiayai semuanya, sementara dari pengelola buah Bagang kirim kontrak dengan harga yang sudah di tentukan dan secara rotasi di kirim terus.
Tanaman buah Bagang yang tumbuh masih bersifat musiman dimana pada bulan Maret sampai bulan Agustus itu banyak di temukan, maksimal bulan November sudah habis, namun di bulan Januari dan Februari sudah ada tumbuh lagi.
Potensi buah Bagang sendiri sejatinya bisa di budidaya, dan di Kalimantan memang belum ada, sementara di pulau Jawa jenis tanaman ini sudah mulai di budi dayakan.
Soal budidaya buah Bagang terang Eko, padahal sangat sederhana dimana sekali tanam akan bertambah banyak, dan harga buah Bagang tersebut semakin tahun tidak akan semakin murah dan pasti semakin tinggi, bahkan umbi atau singkong pun bisa kalah walaupun dengan umur yang sama.
Dari segi negatifnya memang ada, kemarin pernah kirim basah ke Jawa, tapi selalu kalah dengan daerah lain yang juga mengirim karena mengalami kebusukan yang juga tidak bisa di target dalam sehari dapat 2 ton dari warga yang mencari, namun tetap optimis sejelek-jeleknya buah Bagang tetap di cari dan di kumpulkan dan pada prinsipnya tidak membuang barang.
Rafeah, ibu rumah tangga dari 15 orang pekerja buah Bagang dari desa setempat yang hanya bekerja baru 1 bulan bersama suaminya sedikit ada penghasilan yang di dapat.
“upahnya per kilo sebesar Rp 200, yang ukuran sedang Rp 250, dan yang paling kecil Rp 300, dan dalam sehari bisa dapat 100 kg, kami tahu ada manfaat dari buah Bagang mendengar dari Jawa kalau buah Bagang bermanfaat, selain ada keluarga dari Jawa yang memberi tahu,” ungkapnya.
Bisnis baru bagi warga Desa Ujung dengan melakukan pengeringan buah Bagang dapat menjadi tambahan penghasilan bagi warga setempat.Tung

0
0%
like
0
0%
love
2
100%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Komentar Facebook