SENI & OLAHRAGA

Dana Dikecataman Dileluasakan Kembangkan Kesenian Dan Keagamaan

INFOTANAHLAUT.COM-Bupati Tanah Laut H.Sukamta mengatakan, dana-dana yang ada di kecamatan maka di berikan kesempatan dan keleluasaan untuk mengembangkan kesenian daerah maupun lokal serta keagamaan, supaya melalui event-event kesenian dan keagamaan tersebut akan terjadi sebuah transaksi ekonomi yang akan menguntungkan rakyat, di dalam bahasa ekonominya bisa mendorong peningkatan sisi konsumsi, karena di dalam pertumbuhan ekonomi itu ada konsumsi dan pengeluaran pemerintah kemudian investasi, ekspor dan impor hal itu sebagai penentu peningkatan pendapatan masyarakat, demikian di utarakan bupati usai membuka festival kuda lumping se Kabupaten Tanah Laut di lapangan sepak bola Desa Takisung Kecamatan Takisung, Selasa (19/11) dalam rangka hari jadi Tala yang ke 54.
“Terima kasih kepada jajaran Kecamatan Takisung yang menyelenggarakan festival kuda lumping ini,”ucap bupati.
Pada festival kuda lumping di ikuti 12 kelompok kuda lumping, dan peserta yang terjauh dari kota Banjarbaru.
Sementara itu Camat Takisung Yudo Restanto mengatakan, adanya event ini menindak lanjuti arahan bupati Tala bahwa di setiap kecamatan pun harus ada merasakan hari jadi Kabupaten Tanah Laut. Selain itu, inisiatif melaksanakan festival kuda lumping untuk melestarikan budaya serta menumbuhkan ekonomi-ekonomi masyarakat.
“Selain kuda lumping sebelumnya juga ada melaksanakan festival maulid habsy, dan yang akan datang merencanakan festival sendra tari di tingkat Kecamatan Takisung saja,”kata Camat muda ini.
Kegiatan lain menyambut hari jadi Tala ke 54 juga melakukan penanaman pohon di gunung Ranggang dan sekaligus di puncak gunungnya mengucapkan hari jadi Tala.
Antusias masyarakat mendatangi lapangan sepak bola cukup banyak, dan festival ini sendiri akan berlangsung hingga pada malam harinya plus penyerahan hadiah kepada grup kuda lumping yang menang.
Dwi Widiono ,salah seorang juri juga ketua dari komunitas kuda lumping Tanah Laut mengungkapkan, yang di nilai adalah pada Pekemnya, kemudian kreasinya berikut kostumnya, dan kreativitas musik. Masing-masing grup punya ciri khasnya.
“Ada perbedaan, seperti dari Ponorogo Jawa Timur dengan irama yang beda, kemudian dari Kediri juga lain lagi, Tulungagung, dan Jawa Tengah semua ada perbedaan. Namun yang jelas tidak menghilangkan unsur keasliannya, akan tetapi tetap saja sebutannya kuda lumping. Hanya saja untuk daerah Banyumas yang tidak disebut kuda lumping, tapi namanya Ebe karena di butuhkan alat musik gamelan yang lengkap,”papar Dwi.
Kegiatan festival kuda lumping turut membawa berkah bagi Pedagang Kaki Lima (PKL).
Mereka nampak berjejer menjajakan jualanya di sekitar lapangan sepak bola.

1
100%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Komentar Facebook