PUBLIK

Dedet Pasrah Rumahnya Dirubuhkan

INFOTANAHLAUT.COM-Keriput wajah Dedet (40) yang tinggal di jalan Teluk Baru Kelurahan Karang Taruna hanya bisa pasrah menatap manakala tempat tinggalnya yang ia bangun sejak tahun 2004 lalu di rubuhkan oleh alat berat. Perubuhan rumah Dedet sendiri terkait proses lahan di pengadilan negeri yang sejak tahun 2012 hingga sekarang baru ada putusan pengadilan, sehingga di lahan yang di diami Dedet bersama isteri dan anaknya harus di kosongkan.
Proses eksekusi lahan yang dilakukan juru sita Pengadilan Negeri Pelaihari turut di back up dari aparat Polres Tanah Laut, Rabu (19/4) itu cukup berjalan lancar, kendati cukup mengagetkan warga sekitar lokasi pengesekusian lahan.
Dengan mata berkaca-kaca, Dedet terlihat enggan berbicara dengan siapapun, namun saat di ajak ngobrol tentang cerita seputar eksekusi rumahnya akhirnya Dedet mau juga bercerita.
Sembari menatap rumahnya yang telah rubuh Dedet mengatakan, bahwa sejak tahun 2004 lalu ia membangun rumah itu, soal eksekusi ini tidak mengetahui.
“memang sebelumnya ada surat datang kerumah, memberitahukan ada pengukuran tanah, dan eksekusi itu tidak tahu apa artinya, dan mengenai barang-barang di rumah dengan di bantu warga sekitar dan aparat di keluarkan,” ucapnya sambil mengusap-usap wajah dan pandangan ke rumahnya yang telah rubuh.
Sementara waktu Dedet pun tinggal di penampungan bersama isteri dan anaknya, ia tidak tahu lagi harus bagaimana pasca di rubuhkannya rumah.
Ia menambahkan, tanah yang ia bangun rumah dulunya tahun 2004 beli dari orang yang bernama Kipli seharga Rp 7 juta rupiah, dan hanya di berikan surat sporadik.
Di tempat yang sama Juru Sita Pengadilan Negeri Pelaihari Muhammad Normansyah dalam keterangan persnya mengatakan, eksekusi ini sudah dilakukan setelah dalam perjalanan di persidangan dari upaya banding hingga sampai kasasi, dimana oleh pihak penggugat (pemenang) berupa pengosongan sesuai dengan isi putusan dan luas tanah yang di eksekusi seluas 20 depa kali 80 depa.
“jika kedepan ada pihak yang keberatan bisa melakukan gugatan perlawanan ke Pengadilan Negeri, namun perlu di ingat eksekusi sudah putusan akhir yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, dan hal itu jauh sebelum eksekusi dilakukan sudah di sampaikan ke masyarakat, dan tidak ada batasan kapanpun akan melakukan gugatan perlawanan,” jelasnya.
Sementara pasca eksekusi ini dilakukan, pengacara H. Mahmud yang secara sah menguasai tanah itu yakni Hj. Sunarti,SH mengatakan, dari data yang ada dulunya hanya hak milik secara adat, maka di teruskan ke tingkat sertifikat.
“dalam perjalanannya menghadapi perlawanan-perlawanan, para tergugat mengajukan banding sejak tahun 2012 perkara ini masuk di Pengadilan Negeri,” jelasnya.
Di lokasi eksekusi lahan itu, di pasang plang bahwa lahan ini di kuasi oleh H Mahmud bedasarkan hasil putusan Pengadilan Negeri Pelaihari.baz

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Komentar Facebook