DUNIA USAHA

Desa Organik Hasilkan Sayuran Tanpa Gunakan Bahan Kimia

INFOTANAHLAUT.COM- Desa Telaga Kecamatan Pelaihari satu-satunya desa di Kabupaten Tanah Laut penerima program dari Kementerian Pertanian (Kementan) RI berupa “Desa Organik”. Program tahun 2018 ini lebih menekankan pada produksi sayur-sayuran yang nol menggunakan bahan-bahan kimia sehingga aman untuk di konsumsi manusia.
Di Desa Telaga,salah satu kelompok tani yakni Poktan Jakasuma dan poktan ini pun melakukan kerjasama dengan poktan Maporina (Masyarakat Pecinta Organik Indonesia) dalam menjalankan program desa organik.
Mahyudi,salah satu petani dari poktan Jakasuma yang dapat penghargaan dari Kementerian Pertanian yang di serahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo tahun 2016 lalu atas penghargaan sebagai petani pelopor,penggerak dan inovator saat hari pangan sedunia yang di pusatkan di Boyolali Jateng mengungkapkan atas program desa organik tersebut.
Kamis (20/09/2018) Mahyudi mengatakan,program desa organik unggulannya bahwa petani menerapkan petani organik,dalam artian tanpa pupuk kimia,tanpa pestisida jadi menggunakan Pesnab (Pestisida Nabati) dari kotoran hewan ternak. Di situ ada peternak,dan tanaman Repogia (tanaman bunga-bungaan). Desa Telaga merupakan lahan pertanian seluas 595 ha,dengan asumsi dapat memproduksi 1 ton padi per hektar.
Guna mendukung program desa organik kata Mahyudi pula,sudah di siapkan lahan mulai tanam sayuran holtikultura (bayem, kangkung,sawi,tomat,terong,lombok) dan menggunakan pupuk kompos kandang dan pupuk hayati (pupuk yang ada mikroba penyubur tanah) dan tidak boleh menggunkan pupuk urea.
“lahan terbentang yang sudah di tanami seluas 4 sampai 6 hektar dan sudah memproduksi sayuran,”katanya.
Ada makna lain program desa organik ?
Program tersebut bagaimana mengubah mineset petani yang tidak selalu ketergantungan dengan menggunakan bahan-bahan kimia terhadap tanaman sayur-sayuran. Penggunaan bahan kimia pada tanaman sayuran memang di nilai cepat dan bagus hasilnya,akan tetapi endapan bahan kimia yang masih menempel di sayur pada akhirnya masuk kedalam tubuh manusia selaku konsumen,dapat di bayangkan efeknya bakal memunculkan berbagai macam penyakit.
Mahyuni menambahkan,hasil akhir dari program desa organik menghasilkan produk pertanian yang aman di konsumsi masyarakat yang bebas dari bahan kimia. Sementara pangsa pasar produk sayuran dari Desa Telaga hanya sebatas di Pelaihari atau lokal.
Tahapan untuk progran desa organik awalnya melakukan pengairan,sistem perpipaan dan diakui anggarannya besar, termasuk membuat embung kecil sendiri guna keperluan air. Lahan seluas 6 hektar yang sudah di garap dan di tanami tanaman holtikultura sudah berjalan dan menghasilkan produk sayuran tanpa bahan kimia. Dalam program desa organik juga perlu tanaman rumput untuk makanan ternak sapi.
Akan Terjadi Integrated Farming (pertanian terpadu),artinya yang menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan,perikanan,kehutanan dan ilmu lainnya dalam satu lahan sehingga dapat meningkatkan produksi lahan. Dapat di ambil contoh memelihara sapi,air susunya dapat di minum,kotorannya dapat di jadikan pupuk dan biogas. Biogas dapat di pakai bahan bakar dan kotoran dapat di pakai untuk pupuk pada tanaman.
“Sementara pangsa pasar produk sayuran masih lokal. Ada wacana memang sampai tembus ke supermarket,tapi tetap di utamakan konsumen lokal kalau sudah banyak demand (permintaan) baru bisa melebar. Saran ke Pemkab agar kepada pemilik retail yang ada di Kabupaten Tanah Laut yang cukup banyak maka melalui dinas terkait bisa di siapkan tempat khusus hasil pertanian non kimia dari petani Tala di supermarket atau mini market,namun juga harus di barengi rekomendasi aman di konsumsi,”tutup Mahyudi.Tung

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Komentar Facebook