PENDIDIKAN

Diknas Berikan Seluasnya FDS Bagi Sekolah Yang Mampu

INFOTANAHLAUT.COM- Program Full Day Scholl (FDS) atau 5 hari belajar bagi siswa tingkat SMP akan di terapkan di SMP Negeri 1 Pelaihari. FSD sendiri di mulai pada Senin tanggal 17 Juli 2017 yang juga sebagai kegiatan masuk ajaran baru 2017.
Di Kabupaten Tanah Laut sendiri baru SMP Negeri 1 yang menerapkan program FDS tersebut, dan lounchingnya sudah dilakukan langsung oleh bupati Tala Bambang Alamsyah beberapa waktu lalu.
Atas program FDS ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tanah Laut memberikan seluas-luasnya kepada sekolah yang mampu untuk menerapkan FDS itu.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tala Abdillah, Rabu (12/7) di konfirmasi mengatakan, terkait program 5 hari sekolah (FDS) yang tertuang dalam Permerndiknas nomor 23 tahun 2017, pada prinsipnya Diknas pertama adalah sudah mempersiapkan sekolah filoting dalam menerapkan FDS ini.
“memang bagi sekolah yang sudah siap dan sekolah rujukan yang di dorong menenarpkan FDS ini, sementara juga memberikan peluang yang luas kepada sekolah lain yang di rasa siap dan juga secara fasilitas di mungkinkan,” terang Abdillah.
Ia menambahkan, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap pelaksanaan FDS ini, mengingat juga hal-hal yang menyangkut organisasi keagamaan hal ini di akomodir dan masuk bagian integral program FDS. Bahkan mungkin ada organisasi olahraga yang bisa di sisipkan pula. Terkait dengan ini, yang penting bagaimana sekolah untuk melakukan kerjasama yang sinergis, dan hal itu di jadikan bagian dari program FDS. Di satu sisi bagi guru, betul-betul melaksanakan fungis 5 M (Merencanakan, Melaksanakan, Membimbing, Melakukan Evaluasi, Mendidik), sehingga nantinya bisa lebih fokus untuk membina anak didik, bukan hanya pada kemampuan intelektual anak, tetapi juga kepada budi pekerti anak yang harus di kedepankan. Bagi si anak didik akan dapat lebih memahami keagamaan, termasuk melakukan pengembangan bakat anak, di situlah konsep FDS itu ada, dan bisa membuat lebih refresh setelah belajar 5 hari belajar.
Hal senada di utarakan Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Pelaihari Iriansyah.
Menurutnya, apa yang di inginkan Diknas ke sekolah ini maka hal itu pun secara perlahan dalam menerapkannya atau uji coba.
“pada dasarnya kepada orang tua murid sudah di sosialisasikan, bahwa kelas 7,8 dan 9 itu yang mengikuti FDS, pada prinsipnya orang tua murid menerima. Akan tetapi dalam menuju program FDS sekolah masih menyusuan kegiatan apa yang ada di dalam FDS itu, baik itu akamdemik maupun non akademik, termasuk itu keagamaan atau bahasa Inggrisnya,” ungkap Iriansyah.
Menurutnya pula, dalam 5 hari belajar memerlukan kerjakeras semua guru, karena sesuai keinginan Kementerian Pendidikan kompetensi guru harus di tingkatkan, di samping dengan FDS waktu keluarga dan siswa itu lebih banyak seperti hari Sabtu waktu untuk keluarga baik melakukan rekreasi atau di rumah, karena barangkali ada orang tua yang sibuk di kantor seperti PNS, dan bagi si anak bisa kembali fresh ketika sekolah di hari Seninya.
Sementara saat di singgung apakah pelaksanaan FDS ini mematikan lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel). Menurut Iriansyah hal itu ada tehnisnya yakni bisa bekerjasama, dan tidak benar kalau di katakan mematikan karena ada waktu-waktunya yang dapat di atur agar tetap mendapatkan Bimbel, pungkasnya.
Atas penerapan FDS ini, Dwi Bekti Rahmanudin salah seorang pengelola Bimbel bernama Prestasi yang berada di komplek Hamparan Pelaihari pun angkat bicara.
Memang ada kurang setuju dengan peneparan FDS tersebut, karena dampaknya cukup banyak, seperti dalam pengaturan jawdal anak untuk belajara di Bimbel.
“orang tua murid pasti berpikir, sudah jadwal balajar di sekolah padat sampai sore, terus mau ngapain lagi ikut Bimbel, lalu kapan waktu anak untuk istirahat. Di bimbel sendiri konsep yang di terapkan berbeda yakni konsep bermain sambil belajar, dan di buat kenyamanan untuk belajar,”terangnya.
Harapan, program FDS oleh pemerintah harus di tinjau kembali, di bijaki kembali bagaimana, jangan sampai usaha mandiri semacam ini di matikan.
Lantas jika ada kerjasama antara Bimbel dengan sekolah ?
Menurut Dwi hal itu bisa saja dilakukan, akan tetapi membawa dampak lain lagi yakni menyangkut pungutan kepada siswa, dan menambah masalah baru kembali.baz

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Komentar Facebook