PUBLIK

Hidup Yani Dan Anak-Anaknya Dalam Cengkraman Bahaya

INFOTANAHLAUT.COM- Akses jalan desa yang sudah mulus dengan aspal, hanya dalam kurun waktu kurang lebih 30 menit dari kota Pelaihari menuju Desa Riam Pinang Kecamatan Bajuin. Di desa tersebut, Yani selaku kepala keluarga bersama 3 orang anaknya menetap di sebuah rumah yang tidak layak huni dan sewaktu-waktu dinding rumah bisa rubuh harus di jalani Yani warga Desa Riam Pinang Rt 23 nomor 07 Kecamatan Bajuin.
Minggu (18/11/2018) siang, Yani yang bekerja sebagai buruh tani kebetulan baru pulang usai memetik buah petai temannya. Yani mengaku kalau kondisi rumahnya, khususnya di bagian dinding sebelah kiri mengalami miring dulunya bekas kena tiupan angin kencang di samping memang kondisi rumah yang sudah tua.
Yani yang kini tinggal bersama 3 orang anaknya, sementara istrinya sejak 6 tahun lalu meninggal dunia.
“Dulunya tinggal di Kurau, namun pindah ke Riam Pinang dan sudah 25 tahun menetap,”katanya.
Yani menambahkan, memang beginilah kondiisi rumahnya, kalau toh di bongkar dan menggantinya dengan papan yang baru tidak punya duit untuk beli kayu papan. Dengan kondisi rumah yang begini sudah terbiasa, walau kadang warga lain mengingatkan agar selalu siaga.
Kendati rumah Yani dalam keadaan yang setiap saat mengancam nyawa Yani dan anak-anaknya, akan tetapi baginya sudah hal biasa.
Yani mengatakan pula, dengan penghasilan sebagai buruh tani, alhamdulillah anaknya yang paling bungsu Rendra Huja masih bisa sekolah di sekolah SD yang tidak jauh dari rumahnya, dan kini duduk di kelas 5.
Ukuran rumah 4×6 meter pesergi, dan tiada aliran listrik ini, maka untuk penerangan di kala malam hari apa lagi kalau bukan menggunkan lampu api berbahan minyak tanah yang di tempel pada dinding rumah.
Dari beberapa pihak terang Yani pernah datang bahkan mengambil gambar rumahnya dari sisi kanan-kiri, depan dan belakang,namun sampai kini pihak-pihak itu tidak ada kabarnya dan apa maksudnya dengan mengambil gambar rumah,katanya.
Sementara itu terkait bedah rumah, program bedah rumah yang pernah dilakukan Badan Amil Zakat Nasional (Baznaz) Tala di beberapa kecamatan, saat ini masih melakukan penghimpunan dana.
Ketua Baznas Tala Wahyu Rahmandi di konfirmasi mengatakan, proses bedah rumah bisa dilakukan kalau memang ada dananya, namun jika tidak ada Baznas akan tunggu, dan untuk tahun 2019 Baznas akan lebih memperbanyak pemberdayaan. Untuk persyaratan layak atau tidaknya dilakukan bedah rumah mudah saja, permohonan di ketahui desa setemlay, KTP, KK, maka selanjutnya di verifikasi layak tidaknya, serta nanti memyangkut berapa biayanya.
Program bedah rumah juga ada di tangani Bappeda Tala, dimana Bappeda telah bekerja sama dengan Forum Tala CSR (Coorporate Social Responsibility) yang terdiri dari beberapa perusahaan untuk melakukan pengentasan kemiskinan salah satunya dengan program bedah rumah.
Plt kepala Bappeda Tala Rudi Ismanto mengatakan, sampai bulan Desember 2018 tidak ada lagi program bedah rumah itu tergantung Forum CSR.
“Bedah rumah dananya bukan dari APBD, tapi melalaui dana CSR,”jelas Rudi.
Bagi masyarakat yang minta bedah rumah tentunya harus memasukan proposal ke Forum Tala CSR, dan selanjutnya di verifikasi atau di adakan survei.
Harapan Yani, dari pihak mana saja yang bisa memberikan bantuan untuk proses bedah rumahnya menjadi impian. Bukan lantas hanya berharap, akan tetapi penghasilan sebagai buruh tani yang mungkin cukup untuk makan, sementara kondisi rumah kayu yang ia huni begitu mengkhawatirkan. Hidup dalam ancaman keselamatan nyawa harus di jalani Yani bersama anak-anaknya jangan sampai ada hal-hal yang tidak di inginkan terjadi di keluarga Yani, baru ada tindakan.Tung

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
1
100%
sad
0
0%
angry

Komentar Facebook