PUBLIK

Karyawan Pun Kirim Surat Cinta Ke Bupati

INFOTANAHLAUT.COM- Belum lama tadi saat warga di Jalan Mufakat Kelurahan Angsau melakukan pencehatan terhadap 1 truk kontainer yang akan mengangkut Rajungan yang sudah di kemas oleh PT. Fresh On Time Sea Food, dan meminta aktivitas perusahaan berhenti, namun oleh pihak perusahaan seolah tak gentar dengan ancaman warga tersebut.
Tidak semata hanya ancaman dari warga, Pemkab Tanah Laut melalui lembaga Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) pun telah melayangkan surat kepada manajemen perusahaan dengan nomor 331.1/34/Satpolppdk tertanggal 2 Mei 2017 agar berhenti operasi sampai batas waktu tanggal 5 Mei 2017. Surat itu sendiri lahir setelah melalui rakor bersama tanggal 25 April 2017 yang di pimpin Sekda Tala. Namun hal itu juga tidak di hiraukan perusahaan, nyatanya aktivitas perusahaan kembali perjalan sebagai mana biasa.
Melihat pada kondisi demikian, emosi warga mulai habis, pada Ahad (14/5) malam warga pun memasang baliho yang bergambar surat pemberitahuan dari Sat Pol PP di cetak dalam ukuran besar, di samping itu warga juga memasang kunci gembok di pintu masuk pagar perusahaan. Namun aksi ini tidak berlangsung lama, karena oleh aparat Kepolisian meminta warga untuk membuka gembok yang telah di pasang tersebut.
Warga masih belum puas dengan aksi mereka pada malam itu, dan pada Senin (15/5) warga pun mengancam akan menutup paksa perusahaan tersebut.
Sebelum aksi penutupan perusahaan itu terjadi, sejumlah anggota Sat Pol PP dan dari Polres Tanah Laut pun mencoba untuk berdialog dengan pihak perusahaan.
Dialog tersebut memberikan penjelasan dan ketegasan, agar pihak perusahaan memperhatikan, sehingga jangan sampai memunculkan permasalahan yang lebih fatal antara warga dan perusahaan.
Di saat dialog berlangsung, sejumlah karyawan perusahaan yang rata-rata kaum hawa ini tengah istirahat makan siang. Namun, entah tanpa ada komando dari siapa, karyawan ini pun ikut ambil suara ketika mendengar perushaan di minta untuk di tutup.
“tolong bapak-bapak dari aparat, pikirkan kami jika perusahaan ini tutup, akan makan apa anak kami di rumah, jangan asal main tutup, di sini banyak merantau dan juga ganyak yang berstatus janda pak, ”teriak salah seorang karyawan.
Suasana sempat memanas, namun dapat di tenangkan dan di jelaskan oleh aparat Sat Pol PP berikut camat Pelaihari Ahmad Novriadi, dan Lurah Angsau Wina Wardani yang juga hadir.
“kita semua sudah barang tentu tidak menginginkan adanya gejolak, baik dengan warga, perusahaan maupun karyawan yang memang berharap bisa menghidupi keluarga mereka, namun alangkah baiknya jika antara perusahaan dengan warga untuk saling ada keterbukaan, jangan sampai warga kurang nyaman dengan hadirnya perusahaan dalam artian bisa melibatkan warga sekitar sebagai karyawan, namun yang terpenting perusahaan juga harus memperhatikan masalah lingkungan, pendek kata sisa-sisa atau limbah perusahaan jangan asal di buang ke sungai, dimana sungai tersebut pun di gunakan oleh warga,” ucap Camat Pelaihari Ahmad Novriadi.
Ia menambahkan, memang sangat di sesalkan kenapa hal ini sampai terjadi, seharusnya perusahaan nyaman berinvestasi di daerah, warga juga merasakan nyaman, namun untuk keputusan selanjutnya hal itu berada di tangan bupati.
Sementara pihak perusahaan enggan untuk memberikan komentar terkait adanya ancaman warga setempat.
Kasi penyidik Sat Pol PP Mustafa usai melakukan dialog dengan manajemen perusahaan mengatakan, memang kehadiran kali yang kesekian di perusahaan ini untuk memberikan penjelasan dan ketegasan kepada perusahaan.
“sesuai dengan tata ruang, memang tidak di perkenankan perusahaan berada di tengah-tengah pemukiman, sudah di tawarkan kepada perusahaan untuk pindah lokasi yang agak jauh dari pemukiman, namun perusahaan masih mikir-mikir, dan konsekuensinya jika tidak mentaati dari aturan tata ruang, perusahaan bisa di tutup total,” terang Mustafa.
Ia menambahkan, toleransi masih di berikan kepada perusahaan untuk beroperasi menghabiskan bahan baku yang ada, setelah itu jangan lagi ada memasok bahan baku, dengan alasan keberadaan perusahaan tidak sesuai dengan tata ruang sesuai dengan Perda nomor 36 tahun 2006 tentang RTRW Kabupaten Tanah Laut.
Dari ketegangan antara perusahaan dengan warga ini untungnya tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, namun warga setempat terus berupaya melakukan pengawasan kepada perusahaan untuk tidak lagi memproduksi rajungan kemasan pasca penetapan surat pemberitahuaan dari Sat Pol PP.
Usai kedatangan Sat Pol PP dan warga ke perusahaan, diam-diam karyawan mengirimkan surat cinta kepada bupati Tanah Laut, yang di terima oleh staf Sekda Tala. Surat tersebut di kuatkan dengan tanda tangan karyawan dan di sertai foto kopi KTP mereka masing-masing.
Dalam surat itu tertulis, memohon kepada bupati agar tetap memberikan ijin kepada perusahaan, dengan pertimbangan bahwa untuk mencari rejeki demi keluarga, dan memberikan kesempatan bekerja di Kabupaten Tanah Laut, karena karyawan juga orang Tanah Laut.baz

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Komentar Facebook