KECELAKAAN

Kasus “Mesjid Berdarah” Terkesan Lambat Sidang

INFOTANAHLAUT.COM-Masih ingat kasus pembunuhan yang terjadi di sebuah masjid Al Mujahirin di Desa Sungai Cuka Rt 8/3 Kecamatan Kintap pada bulan Januari 2017 lalu, hingga korban bernama Sukoyo warga setempat harus di penggal kepalanya oleh pelaku atas nama Nasirudin alias Nasir (45) warga Desa Sungai Cuka , berkas atau kasusnya kini di tangani pihak Reskrim Polres Tanah Laut guna memasuki ke persidangan, dan sudah selama 3 bulan berkaasnya bolak-balik dari Kejaksaan dan penyidik Polres.
Oleh pihak keluarga korban sendiri mempertanyakan, kapan kasus pembunuhan terbilang sadis itu di gelar di persidangan.
Namun kabarnya perkara tersebut di SP3 kan, artinya di hentikan penyelidikan dan kasus di anggap selesai tanpa harus melalui sidang, “ada apa denganmu Jaksa”.
Atas isu tersebut, Kasat Reskrim Polres Tala AKP Ade Papa Rihi di konfirmasi, Jum’at (28/4) mengatakan, bahwa yang bisa menetapkan SP3 itu adalah hakim pengadilan, bukan dari Kejaksaan akan tetapi berkasnya tetap di masukan.
Ade menambahkan, dan ini merupakan kasus berbau Sara, karena menyangkut hilangnya nyawa orang dengan cara keji. Selain itu alat bukti jelas dan tersangka sudah ada, sementara berkasnya sudah di limpahkan ke Kejaksaan Negeri Pelaihari.
Di jelaskannya lebih mendalam, kalau toh pelaku di nyatakan gila, obeservasi ke rumah sakit jiwa juga sudah dilakukan, termasuk cek darah ke Labfor Forensik di Surabaya juga sudah, dan menyatakan SP3 sendiri juga harus tertulis, dan telah ada termuat di pasal 44 KUHP tentang Hal-hal yang menghapuskan, Mengurangi, atau Memberatkan Pidana pada pasal 2 yang berbunyi “jika ternyata perbuatan itu tidak dapat di pertanggungkan kepada pelakunya karena pertumbuhan jiwanya cacat atau terganggu karena penyakit, maka hakim dapat memerintahkan supaya orang itu di masukan ke rumah sakit jiwa, paling lama 1 tahun sebagai waktu percobaan”
“penyidik sudah melimpahkan berkas perkara pelaku ke Kejaksaan, soal kapan di mulainya sidang hal itu tergantung Kejaksaan Negeri,” ucap Ade.
Kasus ini sendiri menjadi perhatian kalangan, karena bernuansa Sara dan sadis.
Di konfirmasi ke Kasi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Pelaihari Adhya Satya.L.B,SH,MH kemarin mengatakan, ada tenggang waktu selama 14 hari untuk meneliti berkas dari penyelidik, dan yang masih kurang di berkas itu adalah perlunya ada kejelasan dari ahli kejiwaan secara tertulis.
“kata siapa SP3, itu kewenangan penyidik Polres kan namanya saja juga Surat Pemberhentian Penyelidikan, kalau di Kejaksaan namanya Surat Penghentian Penuntutan (SPP), jadi berkas masih P-19 karena masih kurang adanya pernyataan dari ahli kejiwaan tadi,” jelasnya.
Ia menambahkan, kategori gila itu sendiri ada, seperti contohnya Gila Kumat, artinya hari ini normal besok gila begitu seterusnya, dan yakin saja bahwa penyidik bisa mendapatkan keterangan dari ahli jiwa atas kekurangan berkas tersebut.
Waga berharap hukuman setimpal di berikan kepada pelaku, karena kejadian itu menghebohkan warga dan sangat sadis.baz

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Komentar Facebook