RELIGI

Pantai Asmara Upacara Ritual Syukuran Laut

INFOTANAHLAUT.COM-Dari sejarah adanya upacara ritual Mapanretasi atau memberi makan laut, atau di sebut pula sebagai ucap syukur atas limpahan rejeki selama 1 tahun, telah berlangsung sejak nenek moyang di masyarakat Desa Muara Asam-Asam Kecamatan Jorong, dan upacara ritual tersebut tetap terus di lestarikan, Minggu (9/4) di pantai Asmara upacara ritual Mapanreatsi dilaksanakan.
Pantai Asmara adalah singatan dari Asam-Asam Muara, dan kini pantai it uterus berkembang dan ramai di datangi orang dari berbagai daerah, ada yang dari Kalteng dan Kaltim.
Kegiatan Mapanretasi yang memberikan sesajen di perairan pantai Asmara, di ikuti puluhan kapal-kapal nelayan lainnya yang telah di hiasi dengan umbul-ubul dan bendera yang berwarna-warni.
Sejatinya upacara ritual ini di langsungkan pukul 09:00 wita, namun karena kondisi air laut masih surut, sehingga kapal nelayan termasuk kapal induk yang membawa sajian untuk penyerahan kelaut tidak bisa keluar dari dermaga kampung Muara Asam-Asam.
Pada pukul 11:00 wita, air laut pun mulai meninggi, sehingga kapak-kapal yang telah di hiasi tersebut dapat dengan leluasu menuju laut. Sebelum kelaut, kapal induk yang membawa sajian kelaut menuju dermaga di pantai Asmara.
Iring-iringan kapal pun nampak mengiringi kapal induk yang membawa sajian kelaut, dan di iringi pula beberpa buah kapal patroli milik Sat Polair Polres Tala, agar pelaksanaan upacara ritual dapat berjalan aman.
Sesampainya di titik untuk menyerahkan sajian kelaut, kapal-kapal lain yang mengiringi mulai mendekat kapal induk, baik dari arah depan, samping kanan maupun kiri serta belakang.
Setelah di bacakan doa oleh tokoh adat setempat, maka dilakukan penyembelihan se ekor ayam, dan selanjutnya di lepaskan kelaut.
Melihat prosesi penyembelihan selesai, kapal-kapal lain kian mendekat bahkan ada yang berusaha untuk mengambil ayam yang di telah di potong itu.
Prosesi penyerahan sajian kelaut berjalan selama kuranh lebih 30 menit, selanjutnya seluruh kapal pun kembali ke dermaga Desa Muara Asam-Asam untuk sandar.
Menurut Zainudin tokoh masyarakat setempat, kegiatan ritual ini merupakan murni dari swadaya masyarakat nelayan, dan diakui dulunya tidak semeriah sekarang. Dimana dulu hanya dilakukan di sekitar wilayah perkampungan nelayan.
“sebagian memang ada peran dari perusahaan batu bara yang ada di sekitar desa,”jelasnya.
Pada kegiatan adat ritual itu juga turut di hadiri bupati Tala Bambang Alamsyah, Camat, Kapolsek, Danramil, Kasat Polair dan perwakilan dari Kementerian Pariwisata RI.baz

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
1
100%
angry

Komentar Facebook