PUBLIK

Para Isteri Karyawan Cleo Ikut Unjuk Rasa

INFOTANAHLAUT.COM- Sebuah perusahaan air kemasan Cleo di demo karyawannya, Rabu (4/4) di depan perusahaan yang berada di jalan A Yani Desa Pulau Sari Kecamatan Tambang Ulang.
Dalam aksi unjuk rasa tersebut rata-rata di ikuti oleh para isteri yang kini suamianya tidak lagi berkeja selama lebih dari satu pekan. Tidak kerjanya para suami karyawan yang bekerja di perusahaan air minum kemasan Cleo yakni PT. Sariguna Primatirta itu lantaran oleh pihak perursahaan tidak berlaku adil kepada karyawan yang di berhentikan, dan hak-hak karyawan tidak di penuhi perusahaan.
Di utarakan Afrizal salah seorang karyawan bagian operator mesin dari 47 karyawan yang ikut di berhentikan perusahaan mengatakan, karyawan menuntut hak-hak mereka, dimana menurut UU sudah jelas tertera, dimana bekerja bukan sebagai out sourcing karena kami karyawan yang langsung dengan produksi, otomatis karyawan tidak boleh dari out sourcing.
Ia menambahkan, sebagai karyawan seharusnya mendapatkan yang namanya cuti, perusahaan lain pasti ada memberikan cuti dan selama ini kami tidak mendapatkan cuti padahal ada karyawan yang sudah 8 tahun dan 11 tahun bekerja bahkan sampai orang yang sudah bosan bekerja di sini tidak pernah mendapatkan cuti.
“keinginan kami, karyawan bisa di angkat sebagai karyawan PT. Sariguna Primatirta, awal kerja tidak ada perjanjian kontrak kerja, cuma hanya tertulis di minta tanda tangan oleh PT. Berkah Lancar Abaditama (BLA) selaku out sourcing PT. Sariguna Primatirta, dengan begini jelas sudah sekian tahun bekerja di anggap nol kembali dan tidak ada penghargaan sama sekali, cuti tidak dapat, BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenaga Kerjaan sempat terlambat 5 bulan di bayarkan pihak perusahaan. Jika BPJS Kesehatan tidak aktif 5 bulan, kemana kami berobat, kadang gaji juga telat di terima,” ungkapnya.
Ia menambahkan, memang dari segi penggajihan telah sesuai dengan Upah Minimum Provinsi (UMP) itupun baru di tahun 2017 lalu, cuma status dan satu lagi lemburan yang di pukul rata, dan pola kerja sendiri shif-sifan mulai masuk kerja dari pukul 08.00 wita sampai pukul 16.00 wita, di sambung dari pukul 16.00 wita sampai pukul 24.00 wita, begitu seterusnya dari pukul 24.00 wita sampai pukul 08.00 wita.
Sementara itu Riswan selaku ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) yang menaung karyawan PT. Sariguna Primatirta mengutarakan, proses ini sudah masuk di Dinas Tenaga Kerja dan diakui dari mediasi yang dilakukan masih menemukan jalan buntu alias saling lempar kewenangan.
“jawaban dari pihak perusahaan plin plan dan saling menyalahkan, apakah ini masuk kewenangan PT. BLA begitu sebaliknya ini kewenangan PT. Sariguna Primatirta, intinya jika di pindah kerjakan oleh. PT. BLA maka selesaikan dulu hak-hak karyawan, atau menerbitkan surat PHK, namun ini mengambang status karyawan di suruh masuk kerja tidak boleh padahal masih karyawan dan belum di PHK,” jelasnya.
Ia menambahkan, karyawan yang di statusnya di gantung tersebut 90 persen orang dari sekitar perusahaan, dalam kondisi demikian seharusnya perusahaan tidak dulu menerima karyawan dari luar.
Dalam aksi unjuk rasa turut mendapat pengawalan dari 90 anggota Polres Tala dan di tambahkan dari Polsek Tambang Ulang, plus anggota Kodim 1009 Pelaihari di bantu anggota Danramil Kecamatan Bati-Bati serta Tambang Ulang.
Saat pihak media hendak konfirmasi kepada pihak perusahaan, Safi’i salah seorang dari PT. BLA selakau out sourcing PT. Sariguna Primatirta yang menemui wartawan enggan memberikan komentarnya.
“mohon maaf saya tidak bisa memberikan keterangan karena hal ini masih di bahas,” singkatnya sambil meninggalkan dan menuju ke dalam kantor perusahaan.
Atas aksi unjuk rasa ini, terlihat kepala Desa Gunung Raja Samsiar yang terlihat bernada tinggi usai mengikuti proses mediasi.
Mediasi tidak ada titik temu, tuntutan karyawan minta di pekerjakan kembali.
“perusahaan hanya bicara hukum melulu, tanpa menggunakan hati bagaimana para suami mereka yang punya anak, isteri hamil dan kebutuhan rumah tangga lainnya,” katanya.
Dengan nada keras kades di hadapan para isteri para suami yang di berhentikan bekerja dan aparat kepolisian mengatakan, saya siap bertanggung jawab jika harus menurunkan warga di 2 kampung untuk menutup perusahaan ini, saya sebagai kades di pilih oleh warga bukan oleh siapa-siapa, perusahaan ini tidak jauh ubahnya dengan penjajah. Jujur saja saya ketipu, kemarin di suruh memasukan warga dari Desa Pulau Sari dan Gunung Raja, setelah di masukan 10 orang dari kedua desa, lantas yang di berhentikan ada 40 orang, ini sama halnya dengan penipuan. Boleh saja pakai hukum, tapi pakai hati, perhatikan tuntutan peruta atas nasib ke-48 orang tersebut.
Untungnya perusahaan berada di Desa Pulau Sari, jika berada di Desa Gunung Raja sudah saya segel dan tutup perusahaan ini. Hadirnya perusahaan harusnya mensejahterakan masyarakat bukan malah membuat resah masyarakat, ungkap Samsiar Kades Gunung Raja.
Sampai berlangsung siang hingga sore hari belum ada keputusan dari pihak perusahaan terkait permasalahan tersebut, namun untuk tetap menjaga suasana tetaap kondusif aparat dari Kepolisian dan TNI tetap siaga di lokasi dekitar perusahaan. Pihak Polres Tala sendiri mensiagakan 1 unit mobil water canyon dan mobil anti huru hara yang di parkir di kantor Polsek Tambang Ulang dengan jarak kurang lebih 1 km dari lokasi perusahaan.Tung

0
0%
like
1
33%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
2
66%
sad
0
0%
angry

Komentar Facebook