DUNIA USAHA

Poktan Dan Swasta “Deal” Manfaatkan Hutan

INFOTANAHLAUT.COM- Dua kelompkk tani (Poktan) di Desa Tebing Siring Kecamatan Bajuin yang telah mendapatkan persetujuan ijin penggunaan atau pemanfaatan hutan seluas 200 hektar dari Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu yang melakukan kunjungan, kini di tindak lanjuti poktan yang menjalin kerjasama dengan pihak swasta.

Kawasan hutan yang begitu luas, sebagian dari luasnya hamparan hutan tersebut di manfaatkan oleh sebuah kelompok tani (Poktan) Suka Maju di Desa Tebing Siring Kecamatan Bajuin. Poktan tersebut deal menjalin kerjasama dan melahirkan nota kesepakatan (Mou) dengan pihak swasta yakni PT Catur Putra Utama dari kota Surabaya dengan direkturnya bernama Maudidi Qutb Muchlis,ST.

Pola kerjasamanya berupa optimalisasi pemanfaatan lahan hutan dengan kombinasi ternak sapid an tanaman pendukung lainnya di dalam areal Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) seluas 100 hektar.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Ir.Suharo, Selasa (5/12) mengatakan, pola kerjasama di maksud yaitu produksi sharing pembibitan sapi, dimana pihak kedua menerima imbal hasil dari pembibitan sapi 7 persen dari keuntungan bersih perusahaan. Kemudian terhadap seluruh biaya operasional menjadi kewajiban pihak pertama.

“termasuk menyangkut penggunaan tenaga kerja di serap dari Poktan Suka Maju sendiri,” jelas Suharyo.

Dalam kerjasama tersebut memiliki jangka waktu selama 20 tahun pengelolaan pemanfaatn lahan, namun dapat di perpanjang sesuai kesepakatan kedua belah pihak.

Menurut Suharyo pula, semua di awal dengan persiapan seperti penyusunan dokumen analisa kelayakan usaha, serta analisa resiko (Feasibility Study), dan perencanaan penggunaan tata ruang lahan. Pasca di tanda tanganinya Mou tersebut, maka langkah selanjutnya uji coba pembersihan lahan serta pembibitan sapi dan budi daya rumput dalam areal kurang lebih 100 hektar. Persiapan lainnya yakni juga pemagaran lahan. Namun dalam tahap pembersihan serta persiapan lahan dapat dilakukan oleh pihak kedua dengan di dukung biaya operasional oleh pihak pertama.

“dan yang tidak bisa di tinggalkan dalam kerjasama tersebut adanya persetujuan dari pihak kepala Kesatuan Pemangku Hutan (KPH),” imbuhnya.

Suharyo mengakui bahwa sangat jarang sekali investor yang mendatangkan sapi dan mengembangkannya, karena di atas 5 tahun baru Break Event Point (titik impas kembali modal).Tung

 

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Komentar Facebook