WISATA

Sebelum Hengkang, Ekpose Eko Wisata

INFOTANAHLAUT.COM-Perusahaan tambang batubara besar dari negeri Thailand, PT. Jorong Barutama Grestone (JBG) yang akan mengakhiri masa tambangnya di wilayah Kecamatan Jorong pada awal akhir tahun 2018 mendatang, melakukan ekpose hasil kajian di hadapan pejabat dan masyarakat, Selasa (25/10) kemarin di gedung Sarantang Saruntung Pelaihari.

Ekpose yang dilakukan setelah melalui hasil kajian dari lembaga pendidikan yakni Institut Pertanian Bogor (IPB) maupun dari Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, yakni tentang pemanfaatan pengembangan eko wisata setelah benar-benar JBG meninggalkan Tanah Laut.

Melalui lokakarya yang di hadiri beberapa kepala SKPD dan masyarakat di sekitar tambang (Ring 1) di gedung Sarantang Saruntung tersebut, di kupas mengenai berbagai kendala, tantangan hambatan serta prospek peluang bagi Pemerintah Kabupaten Tanah Laut selaku pihak yang nantinya akan di serahi aset JBG.

Lokakarya sendiri di buka oleh wakil bupati Tala H Sukamta, dan Sukamta menekankan bahwa melalui diskusi ini dapat menjadi sebuah langkah selanjutnya yang di ambil oleh JBG maupun dari pihak Pemkab Tanah Laut sendiri.

Menurut Sukamta, eko wisata di harapkan menjadi ikon wisata pantai walau di Tanah Laut ini sudah ada wisata-wisata pantai lainnya. Menjadi harapan besar bisa menjadi destinasi wisata, bukan hanya di konsumsi oleh lokal, tapi sampai ke tingkat nasional dan internasional.

“efek lainnya bagi masyarakat sekitar menjadi bermanfaat dan bisa jadi pemicu ketertarikan bagi investor untuk pula investasi,”kata Sukamta.

Namun yang perlu di perhatikan terang Sukamta, titik lebihnya bisa menawarkan konsep wisata yang berbasis lingkungan dan kemasyarakatan, dan Kabupaten Tanah Laut memang harus punya satu wisata yang representative dari sekian wisata yang serupa, dan pasca lokakarya ini kelak dapat menjadi sebuah catatan sejarah kelak bagi anak cucu kita.

Pada lokakarya di sampaikan hasil kajian yang dilakukan oleh pihak IPB dan Unlam, dan para audien saling mengajukan pertanyaan maupun usulan-usulan.

Usai kegiatan berlangsung Ignatius Wurwanto selaku Direktur JBG mengatakan, lokakarya sebagai amanat dari peraturan Menteri ESDM nomor 72 tahun 2014, dimana ada sesi di dalam penyusunan pasca tambang harus melibatkan stake holder, dan hal ini sebagai tindak lanjut dari pertemuan yang sudah dilakukan pada bulan Juni 2016 lalu untuk melakukan konsultasi dengan pihak Pemkab Tanah Laut.

“ada hasil studi yang lebih kompeherensif dari yang ahlinya yakni pihak perguruan tinggi yang telah melakukan studi menyagnkut eko wisata, dan lokakarya ini untuk mendapatkan masukan guna kesempurnaan studi yang dilakukan,”katanya.

Langkah selanjutnya terang Ignaitius, kita jelas sampaikan kepada pihak Pemkab Tanah Laut, dan semua di tuangkan dalam dokumen pasca tambang, karena dokumen pasca tambang sendiri perlu adanya rekomendasi dari Pemkab Tanah Laut dan di teruskan ke Dirjen ESDM untuk persetujuannya, baru dari hasik persetujuan itu di buat yang lebih detail lagi, apa yang harus di kerjakan.

Lokarya ini juga turut di hadiri petinggi-petinggi PT. JBG yakni Mahyudin Lubis selaku Advisor ITM, Tri Harjono selaku CC ITM dan Ihsan Noor selaku Mine Head JBG, serta Dandim 1009 Pelaihari Lektol Infanteri Hasto Respatyo.baz

 

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Komentar Facebook