PUBLIK

Tuntut Bisa Bekerja Di TKBM KIPUH

INFOTANAHLAUT.COM- Sebanyak kurang lebih 150 orang warga dari Kecamatan Kintap, Kamis (28/12) melakukan aksi unjuk rasa ke kantor Bupati Tanah Laut. Kedatangan mereka yang menggunakan beberapa buah armada bis dan mobil pribadi, sekitar pukul 13.00 wita rombongan mobil warga tiba. Hingga sampai membubarkan diri sekitar pukul 18.30 wita itu mendapat pengawalan dari aparat Polres Tala sampai ke Kintap.
Setibanya di Pelaihari, armada yang membawa masyarakat Kecamatan Kintap ini di kumpulkan di halaman stadion Pertasi Kencana Pelaihari, dan selanjutnya warga berjalan kaki menuju halaman kantor Bupati yang hanya berjarak kurang lebih 200 meter.
Sejumlah poster maupun pun di bawa dalam aksi unjuk rasa tersebut. Salah satu tulisan poster yakni “Pak bupati hari ini kami minta pembelaanmu” dan “stop monopoli, jangan rampas hak kami”.
Untuk mengantisipasi keamanan saat berjalannya aksi unjuk rasa, satuan pengamanan dari unit Sabhara Polres Tala di bawah pimpinan kabag ops Kompol Fauzan Arianto pun di siagakan, termasuk peralatan untuk anti huru hara berupa helm, tongkat dan tameng dan 1 unit mobil water canyon serta 1 unit mobil pemadam kebakaran milik Sat Pol PP dan Damkar juga di siagakan.
Para pengunjuk rasa juga membawa sendiri sound sistem yang suaranya cukup menggelegar dan di letakkan di atas bak mobil pick up, berikut genset ukuran besar di bak pick up yang lainnya.
Tuntutan mereka yakni meminta agar bisa bekerja sebagai tenaga kerja bongkar muat yang di kelola oleh Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Komite Pemberdayaan Umah (Kipuh), karena oleh koperasi Kipuh banyak memperkerjakan dari orang luar Kecamatan Kintap.
Melalui juru bicara warga yakni Sahrun dalam orasinya menyebutkan, masyarakat di Kintap justru tidak ada mendapatkan kesempatan untuk bekerja di koperasi Kipuh, sementara menyangkut sumber daya alam berupa batubara letaknya di Kecamatan Kintap, tapi malah orang luar yang bekerja.
Sebelumnya, pada tanggal 18 Desember 2017 telah ada unjuk rasa di Kintap, namun tidak ada solusi setelah di fasilitasi Kapolsek dan Camat.
“kami di sini menuntut hak kami, karena sumber daya alam berupa batubaranya berada di Kintap. Tanah sudah hancur di gali dan di ambil batubaranya dan warga tidak bisa lagi menanam padi karena lahan di tambang,”terangnya.
Ia menambahkan, pelabuhan di khusus batubara di Kecamatan Kintap sekarang ada 14 buah dan di Kecamatan Jorong Cuma 1 yakni milik PT. Jorong Barutama Grestone (JBG), kenapa warga Kintap tidak bisa bekerja, tapi orang luar yang menikmati. Datang ke kantor Bupati sudah merupakan kegiatan terakhir atau harus ada keputusan final, jangan salahkan warga kalau di Kecamatan Kintap soal Kambtibmas muncul gejolak, karena hak-hak warga di injak-injak. Bayangkan saja, seandainya tambang di dekat rumah, tapi yang punya rumah tidak ikut bekerja.
Dalam orasinya, Sahrun meminta bupati untuk menemui warganya dari Kecamatan Kintap, bahkan menangnya bupati sekarang karena Kintap saat itu mendukung penuh waktu pemilihan kepala daerah lalu.
Keinginan pengunjuk rasa untuk bertemu bupati Tala Bambang Alamsyah rupanya tidak membuahkan hasil, dan hanya oleh Asisten II bidang administrasi ekonomi pembangunan dan kesejahteraan rakyat Ir. Noor Hidayat yang menemui warga Kintap.
Semula juru bicara enggan kalau kembali ada mediasi, karena pasti akan sama hasilnya saat demo sebelumnya di Kintap.
Namun setelah di berikan penjelasan oleh Asisten II, maka di minta 5 orang perwakilan masuk ke aula Barakat lantai 2 Setda utuk berdiskusi.
Akhinrya hal itu pun di penuhi pengunjuk rasa, 5 orang perwakilan warga yakni Sahrun, Aban, Darmansyah, Sugeng dan Syahrudin pun memasuki aula pertemuan.
Namun, lagi-lagi dalam pertemuan itu pun tidak membuahkan hasil. 5 orang perwakilan meminta agar bupati Tala yang bisa langsung memberikan keputusan kepada warga.
Atas usulan itu pun, Asisten II Noor Hidayat bersama kabag Kesra Bambang Kusudarisman, kadis perhubungan Andreas Evoni, perwakilan Disnakertran Maria Ulfah, dan Kadis Koperasi, Usaha Kecil dan Perdagangan M.Raffiki Effendi pun melakukan perundingan, dan langsung menuju kediaman rumah dinas bupati Tala.
Dalam kunjungan ke rumah dinas bupati, juga turut di ajak Sahrun dan Darmansyah utusan warga tersebut.
Selang beberapa lama setelah di tunggu-tunggu, akhirnya Sahrun selaku juru bicara warga pun membawa oleh-oleh dari kediaman bupati Tala berupa adanya keputusan yang telah di ambil bupati Tala.
Ada 2 putusan yakni bupati meminta adanya revisi kepada Menteri Koperasi supaya di satu kabupaten tidak hanya satu koperasi yang bisa bekerja, dan yang kedua apabila pihak Kipuh selaku koperasi yang ada di Kintap tidak berbagi, maka koperasi Kipuh pun akan di bekukan sesuai dengan kewenangan bupati Tala, pendek kata status quo, koperasi Kipuh tidak bekerja warga pun tidak bekerja.
Atas keputusan yang di ambil bupati Tala pun di kuatkan oleh penjelasan Asisten II Noor Hidayat kepada pengunjuk rasa.
Nor Hidayat mengaatakan, adanya tuntutna masyarakat Kintap yang menuntut pekerjaan, maka sudah ada penegasan dari bupati yang dalam waktu dekat akan bertolak ke Jakarta dan menemui langsung Menteri Koperasi guna merevisi keputusan 2 Deputi 1 Dirjen, dimana yang semula hanya satu koperasi saja yang boleh dalam 1 kabupaten, dan mudahan bisa ada persetujuan lebih dari 1 koperasi di daerah pelabuhan. Selain itu juga masih menunggu keputusan dari pihak koperasi Kipuh terhadap situasi ini, dan sudah di jelaskan, baik dari aturan dan segi keamanan dan kenyamanan apabila tidak memberikan lorong, maka bupati sebagai pembina dan pengawas koperasi akan mengambil tindakan berupa pembekuan koperasi Kipuh itu apabila tidak memberi slot sebagai langkah dari bupati.
Secara resmi memang belum ada pemanggilan kepada pihak koperasi Kipuh, dan sementara waktu kepada Kipuh masih bekerja, akan tetapi pada saatnya nanti ada deadline dari bupati, tutup Dayat.
Setelah mendapatkan penjelasan, baik dari juru bicaranya maupun dari Asisten II, warga Kintap pun membubarkan dirinya, dan dengan penuh kesadaran sebelum bubar warga pun memungut sampah-sampah yang berserakan di rumput hijau halaman kantor bupati, dan pulang ke Kintap kembali mendapat pengawalan dari Polres Tala serta Polsek Kintap.
Sementara itu kabag ops Polres Tala Kompol Fauzan Arianto usai warga memburkan dirinya dalam keterangan pesrnya mengtakan, dalam menagntisiapsi keamanan Polres menurunkan 150 personil, dan juga di bantu dari Sat Pol PP, TNI, dan Damkar Tala.
Pihak koperasi Kipuh saat di konfirmasi tidak ada memberikan jawaban terkait aksi warga Kintap, baik di hubungi lewat nomor WA maupun saat di konfirmasi via telpon.Tung

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Komentar Facebook