PUBLIK

Warga Hentikan Kontainer

INFOTANAHLAUT.COM- Warga yang bermukim di jalan Mufakat Rt 4 (belakang Kompi C 623) Kelurahan Angsau, Kecamatan Pelaihari menghentikan 1 buah truk kontainer DA 1126 AH yang membawa kaleng untuk kemasan Rajungan ke PT. Fresh On Time Seafood, Kamis (6/4) selaku perusahan atau pabrik yang memproduksi makanan Rajungan dan merupakan barang ekspor.
Buntut penghentian ini lantaran adanya pemecatan karyawan yang di nilai sepihak beberapa waktu lalu, sehingga tidak mengenakan.
Namun permasalahan lain muncul di perusahaan, warga menemukan adanya pembuangan limbah sisa pengolahan Rajungan ini ke sungai yang berada di belakang lokasi pabrik, dimana sungai itu juga di gunakan warga untuk mengairi sebagi sawah dan keperluan memancing.
Sempat terjadi ketegangan antara warga dengan supir truk, namun pada akhirnya truk kontainer itu lebih memilih untuk mengalah dan menepikan posisinya di pinggir jalan.
H Sairany atau biasa di sapa H Isar selaku ketua Rw 4 yang mewakili warga sekitar bersuara keras kepada Wahyu selaku manager pelaksana perusahaan dan Acin juga dari pihak perusahaan.
Jangan di sangka warga di sini tidak tahu persoalan adminitrasi perusahaan, seperti halnya ijin lingkungan yang belum di miliki pihak perusahaan, dan masih memakai perusahaan sebelumnya yakni peursahaan cold storage (udang), maka ijin itupun harus di rubah atau di miliki kembali oleh perusahaan sekarang, di samping itu yang sangat meresahkan adanya pembuangan limbah ke sungai, terang H Isar.
“pernah pula saat kontainer ini melintasi masuk, mengenai atap musola,” terang H Isar pula.
Selang setengah jam kemudian, Kapolsek Pelaihari Kota IPTU Matnur pun tiba di lokasi kerumunan warga yang berjumlah kurang lebih puluhan orang.
Kapolsek mencoba memediasi antara warga dan perusahaan, di samping itu pula menawarkan mediasi ketingkat kecamatan yakni bersama camat dan dinas terkait yang menyangkut lingkungan.
Dari hasil mediasi di sepakati, untuk hari itu saja kontainer boleh melakukan bongkar muat, namun sebelum perijinan lingkungan di miliki, maka tidak di perkenankan kembali kontainer keluar masuk yang melewati jalan umum.
“tidak ada tawar menawar lagi, warga di sini sudah sangat resah dengan perusahaan, yang sudah merusak jalan, dan musola, atau barangkali sebagai sebuah perusahaan apakah juga ada kontribusinya bagi daerah,” ucap H Isar dengan suara lantang.
Suasana pun sudah dingin setelah di mediasi Kapolsek Pelaihari Kota, namun berselang dalam hitungan menit, karyawan PT.Fresh On Time Seafood yang kesemuanya kaum perempuan dalam jumlah sekitar puluhan orang mendatangi pusat kerumunan, lagi-lagi suasana yang tadinya sidah dingin kembali memanas.
Kepada semua karyawan itu H Isar pun mencermati dan mengatakan, apakah kalian-kalian ini memang warga dari sekitar sini, nyatanya banyak yang dari luar wilayah sekitar Kelurahan Angsau.
Salah seorang karyawan mengatakan, kalau perusahaan ini di tutup kami akan makan apa pak, apa tidak ada rasa kasihan, sudah enak kami bekerja, jadi tolong jangan di ganggu.
Mendengar ucapan itu, H Isar pun mengatakan, kalian tidak tahu apa-apa dan hanya bisanya kerja, dan itu kami maklumi, namun yang warga di sini tidak terima jalan kampung jadi rusak, musola rusak, dan yang fatal lingkungan di sini jadi tercemar karena air sisa produksi di buang ke sungai, di samping itu juga menimbulkan aroma yang kurang sedap.
“perlu kalian ketahui bahwa sesuai dengan UU tentang perusahaan itu wajib memiliki ijin lingkungan, wajib mengelola lingkungan sekitar agar tidak terjadi pencemaran,” jelas H Isar.
Karyawan yang rata-rata perempuan itu pun tak banyak bicara, dan kembali ke perusahaan tanpa banyak bicara.
Sementara dari pihak perusahaan sendiri tidak banyak bicara kepada warga, terlebih kepada media cetak dan elektronik.
Usai berjabat tangan antara pihak perusahaan dengan warga dan aparat, pihak perusahaan langsung meninggalkan lokasi kerumunan.
Sementara belum lama tadi bersama Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) pernah melakukan pengecekan tentang kondisi pembuangan limah, saat itu tim DPRKPLH hanya melihat bak penampungan limbah, namun tidak di perlihatkan adanya saluran pembuangan pipa ke sungai atau berada di luar pagar pabrik.
Di pabrik itu sendiri sampai saat sekatrang terhitung sejak 7 bulan lewat beroperasi tidak memasang plang nama perusahaan di bagian depan, namun hanya di tutupi tembok dengan ketinggian kurang lebih 2 meter.baz

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Komentar Facebook